Stanleykartawinata's Blog

being simple but perfect

XY ALERT !!

leave a comment »

BAB I – PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini media-media semakin berkembang, baik media elektronik ataupun media cetak. Hal ini disebabkan masyarakat membutuhkan berbagai informasi yang sedang beredar (up to date). Lebih dari itu, sekarang ini media menjadi saran bagi masyarakat untuk menyampaikan setiap aspirasi-aspirasi mereka, tentunya setelah diberlakukannya kebebasan Pers yaitu dimana seluruh warga Indonesia memiliki hak demokrasi tetapi pemerintah masih ikut andil untuk mengawasi berita apa saja yang akan disebarkan oleh media.

Mengingat hal tersebut, adapun sifat dari berbagai media yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya  untuk menjual suatu berita atau peristiwa kepada khalayak karena media adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Oleh karena itu penyajiannya harusnya mengikuti kebutuhan masyarakat baik untuk sarana pengetahuan ataupun sarana hiburan dari berbagai segmentasi. Mediapun memiliki kekuasaan atau pengaruh yang cukup besar bagi masyarakat. Sebagai contohnya yaitu para artis-artis, mereka selalu dipublikasikan oleh berbagai media entah berita tersebut mengangkat sisi positif atau negatif  yang pada akhirnya memiliki dampak dan berbagai opini dari masyarakat.

Agar menarik minat para pembaca media selalu menyajikan sesuatu yang berbeda dan menarik dari segi isi – konten dan kualitas. Khususnya media cetak, salah satunya majalah yang banyak beredar dan digemari. Hal ini deisebabkan karena majalah memiliki warna tersendiri yang sangat identik, dimana penggunaan bahasa dan bahasannya tidak terlalu berat dan selalu disesuaikan terhadap target audience. Maka media memliki target kemana berita tersebut akan disampaikan. Target media adalah dari segala umur, lapisan, usia baik anak kecil, remaja, dewasa muda, dewasa, hingga orangtua.

Hal ini yang mendasari mengapa media selalu laku dijual. Namun apakah semua media memenuhi sarat informasi bagi setiap targetnya apalagi bagi anak-anak yang baru bertumbuh secara perkembangan mental dan fisik.

Tim penulis ingin mengfokuskan Research ini pada majalah anak-anak (8-12 tahun) yaitu Majalah XY Kids, dimana Majalah ini telah banyak menarik minat bukan hanya anak-anak namun juga remaja yang diluar segmentasi pun iktu membacanya dan terus mengikuti setiap edisinya. Isi dari majalah XY Kids mengulas tentang tokoh-tokoh kartun – animasi, trend yang terjadi di Indonesia, teknologi, olah raga, sinema – film, musik, artis –artis muda baik dalam dan luar negri serta games.


1.2       Rumusan Masalah

Sebelum majalah XY Kids beredar dipasaran, majalah BOBO pun telah menjadi salah satu ikon majalah yang cukup dikenal masyarakat untuk anak-anak. Majalah Bobo menjangkau untuk anak-anak yang usia 6 – 12 tahun, mungkin atas kebijakan itulah para tim redaksi majalah tersebut mulai memikirkan sajian yang baru untuk anak-anak yang berusia setara agar tidak tertinggal oleh perkembangan jaman.

Berdasrkan hal tersebut, tim penulis ingin mengetahui bagaimana redaksi beserta timnya merangkai suatu berita dalam hal ini membingkai (framing) agar sesuai dengan pasar segmentasi mereka yaitu anak – anak , berikut dasar – dasar penulisannya?


1.3    Tujuan

  • Untuk mengetahui bagaimana cara editor menyusun fakta-fakta dunia anak ke dalam rubriknya.
  • Untuk mengetahui bagaimana cara editor menggambarkan dan menggulas suatu fakta dalam dunia anak ke dalam rubriknya.
  • Untuk mengetahui bagaimana editor membahasakan suatu fakta dalam dunia anak kedalam rubriknya.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Akademik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu paradigma baru bagi pengembangan ilmu komunikasi khususnya dalam bidang jurnalistik yang dalam hal ini ialah dunia anak, melalui analisis framing isi dan tata bahasa majalah anak serta pantas atau tidaknya untuk konsumsi anak-anak.

1.4.2               Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi media massa khususnya majalah anak-anak saat menggulas sebuah fakta ataupun cerita untuk dijadikan sebuah wacana yang layak untuk dikonsumsi anak-anak. Lebih dari itu penelitian ini dapat menjadi acuan bagi para pembaca terlebih orang tua sebagai pembimbing anak, untuk turut serta memberi pengarahan dalam hal kritis wacana.


1.5 Batasan

Penilitian ini hanya sebatas pada majalah XY Kids saja. Berikut isi dari majalah tersebut serta hal-hal yang terkait mengenai dunia anak dalam hal majalah anak. Pengulasan mengenai framing dibatasi oleh wacana terlebih tata bahasa yang digunakan.

1.6       Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang dalam laporan ini adalah sebagai berikut:

BAB I – PENDAHULUAN

Bab ini mengulas tentang latar belakang dan apa yang menjadi landasan dasar  tim penulis mengambil judul Analisis Framing Terhadap Majalah XY Kids

BAB II – KERANGKA TEORITIS

Bab ini mengulas berbagai teori yang akan digunakan untuk menganalisis hasil lapangan dan membatasi hanya kepada orientasi tim penulis, yaitu menganai framing, berikut teori – teori lain yang dianggap bersangkutan.

BAB III – METHODOLOGI

Bab ini memuat berbagai cara olah data yang penulis sajikan.


BAB IV – ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang analisa dari hasil lapangan yang dikaitkan dengan teori – teori yang ada di bab 2.

BAB V – KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini memuat kesimpulan dari hasil analisa bab sebelumnya dan saran yang tim penulis cantumkan sebagaimana tim penulis menutup sebuah penelitian ilmiah.


BAB II – KERANGKA TEORITIS

2.1       Komuniksi Massa

2.1.1   Definisi Komunikasi Massa

Komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakan pesan-pesan komunikasi. Dalam sejarah publisistik dimulai satu setengah abad setelah ditemukan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg. Sejak itu dimulai suatu zaman yang dikenal dengan zaman pubisistik atau awal dari era komunikasi massa. Sebaliknya, zaman sebelumnya dikenal sebagai zaman prapubisistik.

Istilah publisistik sering dipakai dalam arti yang identik dengan istilah komunikasi massa. Lee dalam bukunya Pubisistik Pers mendefinisikan ilmu publisistik sebagai ilmu kemasyarakatan yang mempelajari gejala komunikasi massa dalam seginya (Lee, 1965). Di Amerika Serikat, komunikasi massa sebagai ilmu baru lahir pada 1940-an, ketika para ilmuwan sosial mulai melakukan pendekatan-pendekatan ilmiah mengenai gejala komunikasi yang mengunakan media massa ini dipelajari di perguruan tinggi sekitar tahun 1950-an.

Pada dekade sebelum abat ke-20, alat-alat mekanika yang menyertai lahirnya publisistik atau komunikasi massa adalah alat-alat pencetak (Pers printed)  yang menghasilkan surat kabar, buku-buku, majalah, brosur dan materi cetak lain. Gejala ini makin meluas pada dasawarsa pertama abad ke-20, ketika film dan radio digunakan secara luas. Kemudian disusul televisi pada dekade berikutnya. Kini kita sudah memasuki era telekomunikasi dengan digunakanya sistem satelit ruang angkasa dan jaringan komputer.

Sebagian atau sejumlah besar dari peralatan mekanik itu dikenal sebagai alat-alat komunikasi massa atau lebih populer saluran, ketika narasumber (Komunikasi) mampu mencapai jumlah penerima (komunikan, audience) yang luas serta secara serentak dengan kecepatan yang relatif tinggi.

Karena demikian eratnya penggunaan peralatan tersebut, maka komunikasi massa dapat diartikan sebagai jenis komunikasi yang megunakan media massa untuk pesan-pesan yang disampaikan. Hal ini sangat berbeda dengan pengertian komunikasi yang begitu banyak menyita energi dalam upaya memberikan definisi.

Komunikasi massa kita adopsi dari istilah bahasa Inggris, mass communication, kependekan dari mass media communication (Komunikasi media massa). Artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang “massa mediated”.

2.1.2  Fungsi Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah yang terbanyak mendapatkan penyelidikan daripada pelbagai bidang, jadi model dan teori dalam komunikasi massa banyak sekali. Lagi pun media massa merangkumi media cetak dan media elektronik. Bidangnya begitu luas. Komunikasi massa adalah komunikasi yang paling penting dalam kehidupan kita. Setiap hari kita membaca kabar, buku, majalah, menonton TV, dan mendengar radio. Radio, TV, surat kabar dan majalah adalah media massa yang paling penting dalam mencorakkan kehidupan manusia. Baik orang dewasa maupun kanak-kanak.

2.2       Media Massa

2.2.1  Definisi Media Massa

Istilah Mass communication atau communications diartikan sebagai salurannya, yaitu massa media (Media Massa) kependekan dari media of communication (Susanto,1974).

Kata massa dalam komunikasi  massa dapat diartikan lebih dari sekedar “orang banyak”. Seperti orang-orang yang sedang mengerumuni penjual obat atau yang sedang bersama-sama berhenti menanti dibukanya pintu lintasan kereta api. Massa di sini bukan sekadar orang banyak di suatu lokasi yang sama. Massa kita artikan sebagai “meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran”. (Berlo, 1960). Massa mengandung pengertian orang banyak, tetapi mereka tidak hanya berada di suatu lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar atau terpencar diberbagai gereja diberbagai lokasi yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama.

Massa juga dapat kita lihat sebagai “meliputi semua lapisan masyarakat” atau “khalayak ramai” dalam berbagai tingkat umur, pendidikan, keyakinan, status sosial. Tentu saja yang terjangkau oleh saluran media massa. Pengertian itu perlu dikemukakan, sebab istilah massa pernah dipakai hanya untuk menunjuk suatu lapisan bawah atau rendah, yang jumlahnya paling banyak dalam suatu sistem sosial, yang primitif, lebih banyak dikuasai oleh naluri daripada oleh akal sehat, dan cenderung suka membuat kerusuhan apabila ada kesempatan. Dalam hubungan ini Gustave Le Bon dalam Psychologie Der Massen mengatakan. “Barang siapa pandai mengelabuhi massa, ia akan menguasainya, tetapi barang siapa yang mencoba-coba mendidik massa, ia akan menjadi korban yang pertama” (Scramn, 1971).

2.2.2  Fungsi Media Massa

Pool (1973) mendefinisikankomunikasi massa sebagai. “Komunikasi yang berlangsung dalam situasi interposed ketika anatara sumber dan penerimaan tidak terjadi kontak secara langsung, pesan-pesan komunikasi mengalir kepada peneriman melalui saluran-saluran media massa, seperti surat kabar, majalah, radio, film atau televisi.”

Komunikasi massa adalah yang terbanyak mendapatkan penyelidikan daripada pelbagai bidang, jadi model dan teori dalam komunikasi massa banyak sekali. Lagi pun media massa merangkumi media cetak dan media elektronik. Bidangnya begitu luas. Komunikasi massa adalah komunikasi yang paling penting dalam kehidupan kita. Setiap hari kita membaca surat kabar, buku, majalah, menonton TV, dan mendengar radio. Radio, TV, serta majalah yang dimana merupakan media massa yang cukup mengambil peran dalam mencorakkan hidup manusia sama ada orang dewasa maupun kanak-kanak.

2.3       Media Massa Cetak

2.3.1  Majalah

Majalah (Magazine adalah publikasi atau terbitan berkala yang memuat pelbagai artikel berita-olahan (depth reporting), berita investigative, cerita, dongeng, mitos, dan legenda. Majalah dicetak dalam lembaran kertas berukuran kuarto, folio, atau bahkan lebih kecil, dan dengan ciri-ciri utama dijilid seperti buku. Berdasarkan visi dan segmentasi pembacanya, secara umum bentuk majalah terbagi atas majalah foto, majalah anak-anak, majalah berita, majalah, ilmiah, dan lain-lain.

Menurut Dominick, klasifikasi majalah dibagi kedalam lima kategori utama, yakni:

(1) general consumer magazine (majalah konsumen umum)

(2) business publication (majalah bisnis)

(3) literacy reviews and academic journal (kritik sastra dan majalah ilmiah)

(4) newsletter (majalah khusus terbita berkala)

(5) Public Relations Magazines (Majalah Humas).

2.3.1  Sejarah Majalah di Indonesia

Keberadaannya dimulai pada masa menjelang dan awal kemerdekaan Indonesia. Tahun 1945 terbit majalah bulanan dengan nama Panja raja pimpinan Markoem Djojo Hadisoeparto

Awal Kemerdekaan

Majalah Revue Indoensia yang diterbitkan oleh Soemanang, SH telah mengemukakan gagasannya perlunya koordinasi penerbitan surat kabar yang jumlahnya sudah mencapai ratusan. Terbit semuanya dengan satu tujuan, yaitu menghancurakan sisa-sisa kekuasaan Belanda, mengobarkan semangat perlawanan rakyat terhadap bahaya penjajahan, menempa persatuan nasional utnuk keabadian kemerdekaan bangsa dan penegakan kedaulatan rakyat.

Zaman Orde Lama

Penguasa Perang Tertinggi mengeluarkan pedoman resmi untuk penerbit surat kabar dan majalah di seluruh Indonesia. Pedoman itu intinya adalah surat kabar dan majalah wajib menjadi pendukung, pembela dan alat penyebar. Pada masa ini perkembangan majalah tidak begitu baik, karena relatif sedikit majalah yang terbit.

Zaman Orde baru

Banyak majalah yang terbit dan cukup beragam jenisnya. Hal ini sejalan dengan kondisi perekonomian bangsa Indonesia yang makin baik, serta tingkat pendidikan masyarakat yang makin maju.


2.3.3  Kategori majalah

Tipe majalah ditentukan oleh sasaran khalayak yang dituju, artinya redaksi sudah menentukan siapa yang akan menjadi pembacanya. Kategori majalah pada masa Orde baru; majalah berita, keluarga, wanita, pria, remaja wanita, remaja pria, anak-anak, ilmiah popular, umum, hukum, pertanian, humor, olahraga, daerah.

2.3.4   Fungsi Majalah

Fungsi majalah mengacu pada sasaran khalayak yang spesifik.

  • Ø Kekuatan Majalah:

–          Khalayak sasarannya jelas, karena lebih tersegmen dan terspesialisasi

–          Majalah dapat mengangkat produk-produk yang diiklankan sejajar dengan persepsi khalayak sasaran terhadap prestige majalah tersebut.

–          Usia edar majalah lebih panjang daripada surat kabar.

–          Kualitas visual lebih baik daripada surat kabar

–          Efektif untuk pesan iklan yang berbau promosi penjualan.


  • Ø Kelemahan Majalah

–          Fleksibilitas kurang, karena ada deadline dalam pembuatan final artwork iklan.

–          Biaya pencetakan tinggi, karena kualitas visualnya bagus.

–          Biasanya tidak ada ready stock, karena distribusi majalah umumnya lambat dan jaringan distribusi kurang tepat sasaran.

2.3.5  Karakteristik Majalah

Majalah ialah media yang paling sedrehana organisasinya, relatif lebih mudah mengelolanya, serta tidak membutuhkan modal yang banyak. Majalah tetap dibedakan dengan surat kabar karena majalah memiliki karakteristik tersendiri:

  • Penyajian lebih dalam
  • Nilai aktualitas lebih lama
  • Gambar /foto lebih banyak
  • Cover /sampul sebagai daya tarik.


2.4       Artikel

2.4.1  Definisi Artikel

Artikel, menurut kamus, adalah “kalangan dalam surat kabar”. atau artikel juga biasa disebut tulisan atas nama pribadi penulisnya didalam media cetak.

Unsur-unsur Artikel

Artikel, atau artikel jurnalistik adalah tulisan lepas mengenai pelbagai soal actual yang bersifat opini pribadi penulisnya. Sekalipun bersifat opini (gagasan murni), biasanya penulis artikel berangkat dari sejumlah referensi, entah itu kepustakaan atau hasil wawancara. Artikel jurnalistik, bisa ditulis oleh orang lain (kiriman peniulis luar), biasa pula oleh si wartawan sendiri. Karena bersifat pribadi, artikel jurnalistik pun mesti menyertakan nama lengkap penulisnya. Kendati demikian, berdasarkan dengan karikatur atau kolom (yang tujuannya “cuma” mengomentari sesuatu peristiwa), artikel jurnalistik harus mengemukakan pandangan, penilaian, dan solusi penulisan. Oleh karena itu, artikel jurnalistik yang baik juga mesti menggunakan referensi. Andai tidak, artikel jurnalistik semacam ini lebih cenderung disebut esai, yakni tulisan tentang suatu masalah yang ditulis ringkas, padat, dan berdasarkan pandangan subjektif penulisnya. Adapun hal-hal yang harus di perhatikan dalam penulisan artikel (Hennessey, 1975).

  • Adanya isu (masalah yang sedang hangat), yang membangun sikap kolektif, sehingga muncul pro-kontra, sampai terjadinya consensus.
  • Adanya publik, yakni kelompok atau komunitas yang kita tahu persis memang tertarik dengan isu tersebut.
  • Adanya pilihan-pilihan kompleks yang dilakukan public. Begitu isu muncul. Focus public akan terpecah dan mengundang tanggapan setuju atau tidak. Hal ini tentunya juga tergantung sikap atau pengalaman anggota public. Makin kompleks suatu isu, makin kompleks pula pandangan yang muncul. Yang patut diperhatikan, pembentukan opini amat sangat dipengaruhi jarak, geografis, wawasan pengetahuan, dan sikap masyarakat.
  • Adanya alat penyampaian opini. Apa pun opini yang hendak diangkat, agar terbuka harus disampaikan melalui media massa. Banyak cara untuk mengangkat opini, tapi yang paling bail dan sangat efektif-efisien hanyalah dengan ditulis.
  • Adanya ketertarikan banyak individu. Berapa banyak individu yang terlibat, agaknya sulit diprediksi.


2.4.3  Bagian-bagian Artikel

Artikel juga kerab menemukan dua jenis tulisan lainnya, yang acap kali juga ats nama pribadi, yang kita kenal sebagai esai dan features.Oleh para cerdik-pandai, esai dikatakan bentuk tulisan yang ditulis semata-mata dari sudut pandang penulisnya. Dalam penegasan lain, esai adalah jenis tulisan berbentuk prosa yang mempersoalkan sesuatu hal itu menarik minat penulisnya. Itulah sebabnya, esai dikatakan bersifat amat subjektif, karena di dalamnya amat jarang  ditemukan kutipan teori atau pendapat penulis lain. Andaipun ada, kutipan teori itu bukanlah sebagai landasan argumentasi, melainkan lebih sebagai ilustrasi, pemicu persoalan, atau aksesoris belaka. Denganbegitu, pokok persoalan dalam esai seolah murni muncul dari penulisnya.

Dalam hal cermat berpikir, esai agaknya mirip dengan features (diindonesiakan menjadi karangan khas). oleh kebanyakan pakar tulisan-menulis, features didefinisikan sebagai karangan prosa berbentuk ringkas-padat yang disajikan secara naratif dan sarat mengandung unsure human interst (makna kemanusiaan). Namun, hemat saya, definisikan ini pun tidak mampu menjawab secara tentas menegnai apa itu  feature. Impliksinya, features sulit dibedakan dari esai, karena esai juga dapat berbentuk karangan prosa ringas-padat yang disajikan secara naratif.


2.5       Kebijakan Redaksi

Kebijakan redaksi adalah pedoman (baik tertulis maupun tidak tertulis), yang menjadi buku suci redaksi dalam mengelola news room (mulai dari menentukan isu liputan, angle liputan, memilih narasumber, penugasan, sampai format tulisan dsb). Dengan kata lain, kebijakan redaksi (editorial policy) merupakan kaidah bagi setiap langkah operasional pemberitaan.

2.7       Framing

Anaisis Framing merupakan seni atau kreativitas yang kesimpulannya boleh jadi berbeda, jika dilakukan dengan analisis berbeda, meskipun kasusnya sama. Sebabnya, analisis seorang manusia yang aktif, dan bebas menafsirkan lingkungannya, suatu prinsip yang penting yang dianut oleh paradigma interpretif. Maka secara teoritis, siapa pun dapat membangun dan mengembangkan sebuah kerangkan atau model analisi framing. Mengembangkan sebuah kerangka atau model yang bermanfaatlah yang akan bertahan lama, yakni yang mampu menjelaskan  dan menafsirkan wawancara yang diteliti, yang pada gilirannya akan menentukan apakah kerangka atau model tersebut akan laku di pasaran (akademis) atau tidak.

Analisis framing cocok digunakan untuk meneliti konteks sosial-budaya suatu wacana, khususnya hubungan antara berita dan ideologi, yaitu proses atau mekanisme mengenai bagaimana berita membangun, mempertahankan, dan mereproduksi, mengubah, dan meruntuhkan ideologi.

Analisi framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (Peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja) dibingkai oleh media. Pembingkaian tersebut tentu saja melalui proses konstruksi. Di sini realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu. Peristiwa dipahami dengan bentuknya tertentu. Hasilnya, pemberitaan media pada sisi tertentu atau wawancara dengan orang-orang tertentu. Semua elemen tersebut tidak hanya bagian dari teknis jurnalistik, tetapi menandakan bagaimana peristiwa dimaknai dan ditampilka. Misalnya, langkahmemorandum yang diajukan DPR kepada Presiden Gus Dur bisa saja dimaknai dan dipahami sebagai upaya DPR melakukan kontrol dan pengawasan kepada pemerintah. Bisa juga memorandum DPR itu dimaknai oleh media sebagai upaya menjatuhkan presiden dan dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka dengan Gus Dur. Bagaimana media memahami dan memaknai realitas, dan dengan cara apa realitas itu ditindakan, hal inilah yang menjadi pusat perhatian dan analisis framing. Praktisnya, ia digunakan untuk melihat bagaimana aspek tertentu ditonjolkan atau ditekan oleh media. Penonjolan atau penekanan aspek tertentu dari realitas tersebut haruslah dicermati lebih lanjut. Karena penonjolan atau penekanan aspek tertentu dan realitas tersebut akan membuat (hanya) bagian tertentu saja yang lebih bermakna, lebih mudah diingat, dan lebih mengena dalam piliran khalayak. Ia juga diikuti oleh akibat yang lain, kita kemudian jadi melupakan aspek lain yang bisa jadi jauh lebih berarti dan berguna dalam mengambarkan realitas.


2.8 Konstrak

Istilah Arti
Analisis Framing Analisis bagaimana atau cara seorang editor mengulas suatu berita ke dalam media cetak asuhannya.
Majalah Salah satu dari jenis media cetak yang mempunyai orientasi terbit berperiodik (mingguan / dwi mingguan / bulanan) memiliki segmen khusus, berwarna dan memuat pola-pola interaksi sosial.
Komunikasi Pemindahan informasi dari satu orang ke orang lain dengan media tertentu. Bersifat berkesinambungan dan terus menerus
Rubrik

Wadah artikel-artikel yang memiliki klasifikasi-klasifikasi tertentu, sesuai dengan artikel yang ada di dalamnya.

Redaksi

Pengasuh dalam media cetak yang menempati urutan teratas.

Artikel

Wacana yang termuat dalam suatu rubrik, berisikan tentang opini dalam memandang suatu obyek tertentu.

Agenda

Daftar Perencanaan untuk beberapa penyelesaian yang sifatnya berkala dalam suatu lembaga media.

Bahasa Tutur

Bahasa sehari – hari yang dipakai anak- anak jaman sekarang, bahasa gaul untuk berinteraksi.

Tren

Sedang naik daun, atau popular, banyak digemari banyak kalangan

Social Grade

Ranking penghasilan dari kelas A(sangat berkecukupan) hingga kelas E (sangat kurang berkecukupan)

Editor

Orang yang merangakai setiap bahasan yang ada dalam majalah yang akan mereka susun. Dalam makalah ini redaktir bersama tim redaksi dianggap sebagai editor, sebab pengkhususan editor secara personal tidak ada.

Konsul

Media hard ware (perangkat keras) untuk memainkan game. Contohnya Nintendo, Playstation, XBOX, dan PSP

Side magazine

Majalah sampingan yang berhalaman minim (dibawah 10 halaman) biasanya hanya mengulas pada topik tertentu saja. Side magazine bersifat gratis. Side magazine merupakan awal dari suatu majalah.


BAB III – METHODOLOGI

Penelitian yang digunakan tim penulis dalam penelitian ini adalah bersifat kualitatif, di mana dalam pengambilan data, penulis menggunakan Framing analisis.

3.1 Paradigma Riset

  • Kualitatif

Kualitatif research menurut Catherine marshal dalam sarwono (2006: 193), diartikan sebagai berikut, “Kualitatif research dipengertiankan sebagai suatu proses yang mencoba untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kompleksitas yang ada dalam interaksi manusia”.

Sugiyono (2005:1). Mempengertiankan pengertian kualitatif sebagai berikut:

“Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah ( sebagai lawannya adalah eksperimen), dimana penelitian adalah instrumen kunci, tekhnik pengumpulan data dilakukan secara gabungan ( triangulasi), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menerangkan makna dari pada generalisasi”.

Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapat pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi diperoleh setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang jadi focus penelitian, dan kemudian ditarik suatu kesimpulan berupa pemahaman umum tentang kenyataan – kenyataan tersebut.

  • Jenis: Framing

Analisis Framing digunakan tim penulis dengan cara seorang editor mengulas suatu berita ke dalam media cetak asuhannya. Anaisis Framing merupakan seni atau kreativitas yang kesimpulannya boleh jadi berbeda, jika dilakukan dengan analisis berbeda, meskipun kasusnya sama.

3.2       Narasumber:

-Purposive Sampling:

Kelompok kami memakai tekhnik purposive sampling dikarenakan Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Misalnya pada penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja.

Oleh karena itu karena kami mengangkat topik tentang majalah XY kids yang berhubungan dengan masyarakat social pada umumnya dan ini  berhubungan hanya dengan orang tertentu yaitu para konsumen XY kids dan juga orang – orang yang berhubungan dengan majalah XY kids, mulai dari editor majalah dan juga para pegawai laiinya yang berpartisipasi di dalam struktur majalah itu.

Kami akan mulai mengambil data berawal dari mewawancarai editor inti dari majalah XY kids dan juga orang – orang yang terlibat dalam penentuan tema dari majalah XY kids tersebut, lalu kami akan melakukan riset di lapangan mulai dari majalah dan toko buku yang menjual majalah XY kids tersebut dan melihat apakah konsumen mereka sesuai dengan target khalayak mereka yang harusnya konsumennya adalah anak – anak dan bukan remaja serta orang dewasa.

Kemudian kami akan pergi ke toko buku terdekat dan mulai melakukan riset dengan melihat siapa saja orang yang membeli majalah tersebut apa kah remaja, orang dewasa atau anak kecil yang tertarik untuk membeli majalah tersebut.

Setelah itu kami akan mewawancarai konsumen dari majalah XY kids tersebut dan memberikan pertanyaan – pertanyaan seputar kenapa mereka memilih majalah XY kids dan apa dampaknya kalau dibaca oleh anak – anak kecil yang masih tidak mengerti tentang apa yang mereka baca dan dampaknya terhadap anak – anak itu, karena anak – anak kecil masih mudah terpengaruh dan mudah meniru hal – hal yang mereka lihat baik itu benar ataupun salah.

Lalu kami akan melakukan wawancara terhadap para pakar – pakar yang mengerti tentang masalah yang kami angkat ini dan apa dampaknya terhadap masyarakat sekarang ini, serta kami akan meminta pendapat untuk pemecahan dalam masalah ini dan juga meminta saran apa yang harus tim kami lakukan untuk lebih melengkapi makalah yang kami buat ini.


3.3 Teknik Pengumpulan Data:

3.3.1 Data Primer :

Data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung dilapangan oleh orang yang melakukan penelitian. Data primer disebut jg data asli atau data baru. Data primer yang didapatkan setelah melalui analisis framing seluruhnya berasal dari  narasumber inti yaitu editor majalah xy kids dan juga consumen – consumen masyarakat yang ikut membaca xy kids

3.3.2 Data Sekunder :

Data yang diperoleh atau dikumpulkan melalui sumber – sumber lain yang tetap berkaitan dan membantu melengkapi data – data yang sudah ada dalam penelitian ini. Data sekunder diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap masyarakat umum dan juga terhadap pakar – pakar yang mengerti tentang masalah dalam penelitian ini.


3.4       Teknik Analisis Data

Reliability Validity
–          Kelompok kami akan mewawancarai narasumber kunci yang berasal dari editor XY kids –          kelompok kami akan berusaha merekam suara dari narasumber kunci yang menjadi inti dari wawancara kami
–          Kami akan melakukan pengamatan di toko –  toko buku terdekat untuk mengetahui siapakah konsumen xy kids –          kelompok kami akan membuat catatan dari setiap kata – kata yang dikeluarkan oleh narasumber
–          kami akan mewawancarai para konsumen dari XY kids dan menanyakan tanggapan mereka terhadap penelitian ini –          mengambil foto dari pihak narasumber beserta dengan foto dari kelompok kami
–          kami akan melakukan wawancara dengan pakar – pakar yang mengerti tentang masalah ini –          membuat surat dengan atas nama narasumber bahwa data hasil wawancara kami bole dipakai untuk dipublikasikan


3.5 Waktu & Tempat

Berikut Kronologi waktu dan beserta tempat dimana kami menghimpun setiap data yang ada.

  • 28 Oktober 2009:   Pencarian buku – buku yang berhubungan, guna mencari teori yang sesuai dengan materi framing.
  1. i.    Lokasi : Perpustakaan Kampus LSPR dan Research Centre
  • 5 November 2009:               Membeli majalah XY Kids untuk dicermati setiap rubriknya (edisi khusus, musik)
  1. ii.    Lokasi : Depan Rumah Sakit Jakarta, pedagang eceran
  • 19 November 2009:   Membeli majalah XY Kids untuk dicermati setiap rubriknya
  1. iii.    Lokasi : Mall Ambasador Lt.2
  • 28 Januari 2010 :   Pembuatan surat ijin ke kantor XY Kids
  1. iv.    Lokasi : Kampus B LSPR
  • 15 Januari 2010 :   Surat ijin selesai
  1. v.    Lokasi : Kampus B LSPR
  • 25 Januari 2010 : Mendatangi kantor Kompas Gramedia
  1. vi.    Lokasi : Jalan Panjang No. 8A Lt. 4, Kebon Jeruk Jakarta Barat.
  • 1-3 Januari 2010 : Penyelesain tugas
  1. vii.    Lokasi : Wisma anugerah, Jakarta pusat.

BAB IV – ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1       Deskripsi Majalah XY Kids

Majalah anak (range usia 8 – 12 tahun) yang mengungkap tentang berbagai hal yang lagi menjadi tren. Tema yang diulas, mengenai mainan, games, animasi, film, ilmu pengetahuan dan teknologi, acara tivi, komik, olah raga, musik, pemberitaan artis – artis muda yang baik lokal maupun mancanegara, dan sebagainya. Majalah ini, terbit dua mingguan, setiap hari Kamis. Tersebar di seluruh kota-kota besar di Indonesia karena mentargetkan pasar ke social grade A – B.

XY kids memposisikan diri sebagai teman bagi para pembacanya. Berbeda dengan saudaranya yaitu BOBO yang lebih bersifat edukatif untuk mereka. Walaupun bernaung dalam tempat yang sama yaitu KOMPAS Gramedia. Dalam penyampian setiap artikelnya XY kids menggunakan bahasa tutur. Jadi seringkali terlihat kurang sopan bila membandingkan dengan bahasa dalam majalah BOBO. Dalam hal ini XY Kids lebih menekankan bahwa dia merupakan teman bagi para pembacanya, bukan sebgai guru, adik atau orang tua mereka. Sehingga bahasa yang disampaikan pun demekian, sesuai dengan bahasa yang dipakai oleh para pembaca mereka.

Dalam mendidik – mengedukatif setip pembacanya, XY Kids memberikan simulasi berupa pendidikan yang siftanya justru informal. Melalui rubrik informasi dan teknologi XY Kids menawarkan sejumlah pengetahuan. Redakatur beranggapan bahwa anak – anak Indonesia sekarang sudah bukan anak era 90-an yang perlu disuapin terlebih dahulu. Mereka sudah mampu mengembangkan diri dalam dunia eksternal mereka, dengan lingkungan dan teman – teman mereka. XY Kids merupakan majalah dimana anak yang menghendakinya bukan orang tua yang membelikan atas dasar sejarah turun – temurun. Seringkali Orang tua yang memberikan majalah sebagai suatu wadah inspiratif bagi anak – anak mereka, karena sifat dari majalah tersebut yang dinilai baik atau orang tua mereka dahulu pernah dibelikan orang tua mereka saat mereka masih kanak – kanak, inilah yang dimaksud atas dasar turun – temurun. Namun lain bagi XY Kids dimana seorang anak memiliki pilihan sendiri untuk menjadi bahan wacana mereka sendiri, walaupun tetap saja biaya yang dikeluarkan untuk membeli berasal dari orang tua mereka.

Visi dan misi

Misi     : Menjadikan anak-anak Indonesia lebih kreatf. Majalah XY Kids bukan hanya menghibur, namun juga memberikan berbagai informasi untuk mengembangkan wawasan anak-anak Indonesia sesuai jamannya.

Visi : majalah hiburan untuk anak – anak ditengah kegiatan sekolah yang padat serta menjadi teman bagi mereka yang mendidik tanpa harus menggurui.

Akan meluncurkan majalah XY Kids untuk anak yang usianya dibawahnya

4.1.1  Sejarah Singkat XY kids

Awalnya XY Kids hanya berbentuk dami – dummy di luncurkan awal tahun 2003 dan sifatnya masih cuma – cuma sebagai side magazine dari BOBO. Jadi saat ini usia XY Kids sudah mencapai 7 tahun. Tim penulis yang saat itu hanya beranggotakan 8 orang, dituntut untuk membuat majalah anak – anak yang lain dari pada majalah sebelumnya. Bila saudaranya yaitu BOBO mengambil statement teman bermain dan belajar, maka XY Kids mengambil statement teman bermain sambil belajar. Tim penulis sadar bahwa anak – anak era sekarang sudah cerdas dan terbuka dengan hal – hal baru disekitar mereka. Hal ini yang menjadikan XY Kids muncul sebagai teman mereka. Menggunakan bahasa tutur khas anak – anak.

Dalam perkembangannya dimana XY Kids berfokus pada anak – anak usia 8 – 12 tahun, justru pembeli terbanyak diatas 12 tahun. Rubrik – rubrik yang ditawarkan kadang mengundang emosi bagi para orang tua, walaupun faktanya mereka hanya berasumsi di blog saja belum protes


4.2       Analisi Framing Media

Seperti yang telah kita ketahui dalam bab II, telah dipaparkan bahwa sekarang ini kita telah memasuki era telekomunikasi dimana informasi sangatlah dibutuhkan dari generasi ke generasi dengan perkembangan teknologi yang selalu dinamis baik media cetak maupun media elektronik. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat luas ini selalu haus akan informasi maka dari itu dalam penyampaiannya suatu media memiliki tatanan yang selalu terbagi dalam berbagai lapisan dan golongan salah satunya adalah usia. Hal tersebut dikarenakan tidak semua masyarakat dapat menerima maksud yang akan disampaikan dalam suatu media agar tidak ada bias ataupun misscommunication / salah persepsi.

Majalah menjadi salah satu media cetak yang tujuannya / sasarannya lebih spesifik. Kalau kita lihat, majalah selalu memiliki tujuan yang jelas kepada setiap target audience, ini akan bergantung pada bagaimana mereka membungkus atau mengkaji suatu artikel – artikel dan informasi yang akan dimuat dalam majalah. Tak jarang majalah menjadi pilihan utama karena dilihat dari kebutuhannya majalah selalu dikemas dan disusun dari segi visual  yang menarik dimana si pembaca akan memiliki minat yang lebih.

Pastinya setiap majalah memiliki standard kelayakan, apalagi untuk majalah anak – anak karena meninggingat tumbuh kembang mereka sangatlah penting dimasa –masa ini. Anak – anak cenderung mudah menyerap setiap informasi yang mereka dapat dan sering sekali mereka belum bisa memilah – milah mana yang harus mereka terima untuk dilakukan dan mana saja yang tidak boleh dilakukan. Para peneliti ingin memfokuskan penelitiannya untuk anak – anak yang berusia 8 -12 tahun karena mereka adalah target audience dari majalah anak yaitu majalah XY Kids.

Pada umur 8 – 12 tahun mereka mulai meninggalkan sisi egosentrisnya (menempatkan posisi mereka sebagai pusat perhatian dari semuanya), dan mereka mulai untuk bermain, berkumpul dengan lingkungan baru dan mereka sudah dapat diberikan motivasi serta mengerti hal – hal yang sistematis, akan tetapi setiap pesan yang akan diberikan untuk si anak haruslah memperhatikan penggunaan bahasanya. Mereka juga mulai bertumbuh sebagai pra-remaja yang mereka sedikitnya sudah mulai mengerti konsep dan dapat berpikir. Namun pada usia pra-remaja ini mereka bisa merasakan suatu pergumulan didalam diri mereka yang sedang mereka hadapi, maka itu perlunya lingkungan yang sehat untuk mendukung dan memberikan pendekatan yang lebih karena sifat mereka yang masih labil. Pada saat itu anak telah memasuki masa pubertas.

Ada fase – fase untuk tumbuh kembang si anak pada usia – usia tertentu yang harus diperhatikan oleh orangtua agar mereka dapat mendidik atau menempatkan diri secara benar bagi anak mereka, yaitu :

Fase Pertama ;

– Teman untuk bermain

Teman bermain untuk usia anak antara 5 sampai 7 tahun.

Bagi mereka, teman adalah seseorang yang mempunyai mainan yang menarik yang tempat tinggalnya dekat di sekitar mereka, dan mereka mempunyai ketertarikkan yang sama.

Kepribadian dari teman tersebut tidak menjadi masalah, yang terpenting bagi mereka adalah kegiatan dan mainan apa yang mereka miliki, persahabatan mereka akan terputus apabila salah seorang dari anak tersebut tidak mau bermain lagi dengan anak lainnya karena kejenuhan dan kebosanan, persahabatan mereka akan secepat mungkin terputus dan terbina kembali begitu saja.

Contoh percakapan yang sering kita temui pada anak-anak usia 5 sampai 7 tahun, antara lain mengenai berbagi makanan, misalnya ;

“Kalau kamu memberi saya coklat, kamu temanku lagi”

Dalam usia ini mereka dengan gampangnya mengatakan tentang berteman, biasanya percakapan mereka dimulai dengan perkataan “namamu siapa ? dan namaku……” dan mereka bisa begitu saja berteman setelah saling mengetahui nama masing-masing.

Fase Kedua

– Teman untuk bersama

Teman bermain dan membangun kepercayaan, untuk usia anak antara 8 sampai 10 tahun.

Dalam usia mereka ini, pengertian teman sedikit lebih luas dari pada fase pertama, karena arti teman bagi mereka sudah melangkah ke perasaan saling percaya, saling membutuhkan dan saling mengunjungi.

Dalam fase ini seorang anak untuk mendapatkan teman tidak segampang anak pada fase pertama, karena mereka harus ada kemauan berteman dari kedua belah pihak.

Mereka tidak akan mau berteman lagi setelah di antara mereka timbul masalah, seperti ;

– Salah seorang di antara mereka ada yang melanggar janji ;

– Salah seorang di antara mereka ada yang terkena gosip ;

– Salah seorang di antara mereka tidak mau membantu, disaat temannya tersebut

membutuhkan pertolongan.

Percakapan yang sering kita temui pada fase kedua ini, misalnya ;

“Kenapa kamu pilih dia sebagai temanmu ?”

Dalam fase ini, seorang anak tidak mudah menjalin persahabatan, biasanya persahabatan tersebut terjadi setelah beberapa saat mereka saling mengenal baik baru mereka akan menjalinnya, kadang persahabatan mereka bisa sampai usia dewasa, kadang juga terputus tergantung factor apa yang terjadi selama persahabatan mereka.

Fase Ketiga

– Persahabatan yang penuh dengan saling pengertian

Terjadi pada anak usia 11 sampai 15 tahun, bagi mereka arti teman tidak hanya sekedar untuk bermain saja, di sini seorang teman harus juga bisa berfungsi sebagai tempat berbagi pikiran, perasaan dan pengertian.

Pada fase ini persahabatan memasuki stadium yang sangat pribadi, karena pada umumnya mereka sedang mengalami masa puber dengan permasalahan psikologis seperti ; depresi, rasa takut, problem di rumah, atau problem keuangan yang terjadi pada mereka, biasanya mereka lebih tahu permasalahan psikologis tersebut dibandingkan dengan orang tua mereka sendiri.

Persahabatan pada fase ini bisa berubah seiring dengan berjalannya usia mereka, dari sekedar teman bermain, kemudian berkembang menjadi teman berbagi kepercayaan dan teman berbagi emosi.

Cara pendekatannyapun haruslah berbeda karena usia 8 – 12 tahun, mereka menemukan bahwa teman adalah sarana yang menarik untuk diajak bermain maupun memberikan contoh pada mereka. Mereka juga dapat merasakan bahwa pertemanan adalah sesuatu yang sangat pribadi yang bisa dipercayai untuk saling berbagi untuk mendapatkan nasihat maupun jalan keluar untuk masalah mereka karena nasihat tersebut disampaikan tidak terdengar untuk menggurui namun akan lebih membangakitkan suasana yang nyaman apalagi bila privacy mereka terjaga. Maka bagi orangtua pun harus pintar – pintar untuk memposisikan diri bagi anak – anak mereka pada fase usia ini.

Akhir – akhir ini media cetak yaitu majalah sudah menjadi “teman baik” untuk mereka, bukan hanya sebagai hiburan yang menarik tetapi diharapkan bisa menempatkan diri sebagi sarat informasi yang dikemas secara berwarna agar mereka tidak gampang bosan malah akan membuat anak – anak menanti – nanti setiap edisi yang akan diterbitkan. Sebut saja majalah anak yaitu XY Kids magazine yang sedang menjadi trend, majalah ini sangatlah menghibur, apalagi mengingat anak – anak sekarang sudah memiliki kegiatan yang sangat padat didalam sekolah maupun diluar kegiatan sekolah seperti mengikuti berbagai macam private study setiap harinya. Mereka akan cenderung untuk merasa penad dan jenuh akan aktifitas mereka yang sangat berat.

Majalah XY Kids dikemas secara ringan namun mengandung banyak informasi yang sedang in atau yang sedang hangat diperbincangkan, seperti contohnya; tokoh – tokoh kartun animasi, mainan – mainan yang sedang digemari dan lain sebagainya. Pengetahuan yang diberikan bukan untuk menggurui si anak namun lebih kepada hal – hal yang menyenangkan seperti seorang sahabat bagi mereka agar mereka menyukainnya. Akan tetapi apabila kita mengamati lebih lanjut disaat kita mulai membaca majalah XY Kids, ada pertanyaan yang menggelitik para peneliti yaitu menyangkut tatana bahasa yang digunakan seperti “cewe, cowo, gue elu, dan gebetan”. Apakah bahasa yang digunakan layak untuk mereka padahal bukankah seharusnya penggunaan bahasapun harus diperhatikan secara mendetail walaupun bahasa tersebut bukan menjadi hal yang tabu di lingkungan mereka. Ada beberapa edisi yang mengangkat ulasan yang bukankah seharusnya cenderung untuk orang dewasa.

Para peneliti telah melakukan analisa yang lebih mendalam, analisa yang para peneliti gunakan adalah Framing Analysis karena secara sederhana analisa ini dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (Peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja) dibingkai oleh media. Pembingkaian tersebut tentu saja melalui proses konstruksi. Di sini realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu. Peristiwa dipahami dengan bentuknya tertentu. Hasilnya, pemberitaan media pada sisi tertentu atau wawancara dengan orang-orang tertentu. Semua elemen tersebut tidak hanya bagian dari teknis jurnalistik, tetapi menandakan bagaimana peristiwa dimaknai dan ditampilkan.


4.2.1  Cara Redaktur Menyusun Berita.

Redaktur bersama tim redaksi mengadakan rapat secara periodik guna memenuhi agenda mereka.

  • Rapat tahunan – annual meeting = diadakan setiap awal tahun guna merencanakan bahasan apa yang akan diluncurkan, berikut mengenai rubrik dan konten yang sedang trend di mata anak – anak. Rapat ini biasanya dibarengi dengan evaluasi dari progress tahun sebelumnya.
  • Rapat mingguan – weekly meeting = diadakan setiap hari senin di setiap minggunya. Rapat ini bersifat umum dan berkutat pada hal apa saja yang akan diluncurkan untuk majalah mereka, sesuai dengan pola terbit mereka yaitu terbit di hari kamis minggu pertama dan minggu ketiga di setiap bulannya.

Para tim lapangan – reporter terjun di minggu ke dua dan kempat untuk mencari berita dan ulasan yang sedang menjadi trend. Tim terbagi menjadi 5 bagian yaitu:

  • Olah raga                : Tim mencari data-data seputar olah raga melalui internet, biasanya berita yang diulas mengenai olah raga di luar negeri. Seperti sepakbola yang hampir selalu ada dan basket
  • Games                     : Tim pergi ke mall untuk mengetahui pasar dan perkembangan konsul terkini, mainan- mainan terbaru biasanya mereka membeli untuk dipelajari sekaligus mempromosikan juga melalui rubrik mereka
  • Musik                                   : Tim pergi ke toko musik untuk mengetahui perkembangan musik di tanah air dan luar negri. Ditambah juga mencari dari internet, berikut artis – artis yang menjadi sorotan media.  Hanya sebatas lagu mereka
  • Kartun                                  : Tim menganalisa film – film  biasanya mengenai kartun – animasi Jepang yang sedang berlangsung di Indonesia
  • Film – sinema        : Tim menganalisa film di bioskop yang sedang beredar. Tentunya tim hanya mengulas film yang patut atau layak sesuai dengan segmen saja.

Setelah semuanya terkumpul bahan – bahan yang akan diramu, redaktur sebagai pemimpin dan penanggung jawab akan mengkontrol – brainstorming bahan – bahan mana saja yang akan dipilih untuk dilunjurkan.

BAB V – KESIMPULAN DAN SARAN

5.1       Kesimpulan

5.1.1  Kesimpulan Umum

Majalah XY Kids lebih memposisikan diri sebagai teman bagi para pembacanya sehingga bahasa yang digunakanpun menggunakan bahasa tutur atau bahasa khas keseharian mereka sehingga majalah XY Kids berorientasi pada bahasa yang sifatnya edukatif tapi tidak menggurui.

5.1.2   Kesimpulan Khusus

Dalam segi pembahasannya majalah XY Kids terkadang bersifat  tidak pada aturannya, terutama bagi tumbuh kembang anak di usia 8 hingga 12 tahun untuk mengerti dan itu bisa berakibat baik atau buruk bagi anak tersebut.


5.2       Saran

5.2.1   Saran Akademis

Setiap media cetak dalam hal  ini khususnya majalah mempunyai cara membingkai setiap bahasannya. Dalam segmentasi apapun analisis framing  tidak bersinggungan dengan sopan atau tidak sopan. Namun lebih kepada bagaimana cara seorang redaktur bersama tim redaksi merangkum bahasannya sesuai dengan fenomena yang terjadi di pasar segmentasi dan target audience mereka

5.2.2   Saran Praktis

Setiap majalah  hendaknya tidak terlalu atau tidak harus selalu mengikuti fenomena apa yang terjadi di dalam masyarakat khususnya yang dengan segmentasi atau target audience mereka hendaknya mereka menjadi trendsetter bukan menjadi follower guna menjadikan sumber daya manusia yang lebih baik dan berkembang.
DAFTAR PUSTAKA

Buku

Sarwono, Jonathan. Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif . edisi pertama. yogyakarta: Penerbit graha ilmu, 2006

Sugiyono. Memahami penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2005

Internet

http://books.google.co.id/books?id=uKRiqPSWnO0C&pg=PA1&dq=definisi+komunikasi+massa#v=onepage&q=&f=false: Rabu 28 oktober 2009, Pk. 19.00

http://books.google.co.id/books?id=wGwj0CPSjlQC&pg=PA66&dq=definisi+framing#v=onepage&q=definisi%20framing&f=false: Rabu 28 oktober 2009, Pk. 20.00

http://books.google.co.id/books?id=yCWn93wnNHYC&printsec=frontcover&dq=media+massa&lr=&client=firefox-a#v=onepage&q=&f=false: Sabtu 31 oktober 2009, Pk. 18.30

http://belajardekavetiga.blogspot.com/2005/09/karakter-majalah.html: 9 November 2009, Pk. 11:08

http://oliviadwiayu.wordpress.com: 11 November 2009, Pk. 22.00

http://kuliahkomunikasi.blogspot.com/2009/01/bentuk-bentuk-media-massa.html: 11 November 2009, Pk. 22.00

http://immfaiuad.wordpress.com/2008/01/01/pengertian-ideologi/: 10 November 2009, PK. 0 7:50

http://buntomijanto.wordpress.com/2007/03/06/menelaah-kebijakan-redaksi-pers-medan-dalam-memberitakan-isu-hivaids/: 10 November 20,  PK. 08:02

http://hendragrandis.files.wordpress.com/2008/09/metodologi_1.pdf: 03 Febuary 2010, Pk. 09.00


LAMPIRAN



Transcript wawancara – George Wilhelm (Staff redaksi):

  1. Q: Kapan awalnya anda mulai menulis untuk majalah Xy Kids dan sejak kapan anda sudah ada di XY Kids?

A: Saya sejak awal kira-kira pada tahun 2003. Sebenarnya sudah dari awal sekali waktu XY Kids ini masih berbentuk dummy.

  1. Q: Segmentasi dari majalah XY Kids

A: Anak – anak yang berumur 8 – 12 tahun (A & B) dimana XY Kids menargetkan kepada anak – anak yang aktif, well inform dan penikmat games

.Menurutnya majalah ini hanyalah sebagai sarana hiburan anak – anak ditengah kepenatan dari kegiatan sekolah yang sekarang ini saja dapat dilihat anak – anak setelah kegiatan belajar mengajar di sekolah, harus lagi ditambah dengan les –les tambahan diluar sekolah.

Cara majalah ini mengemas suatu pengetahuan pun tidak seperti pelajaran disekolahan namun lebih kepada hal apa saja yang bisa menarik minat mereka namun tetap pada porsinya.

  1. Q: Kalau soal bahasa yang sering digunakan, seperti contohnya sering sekali ada kata – kata cewe / cowo, gebetan dan lain sebagainya. Apakah itu sudah bisa atau layak dikonsumsi untuk anak – anak ?

A: Kata mas George, “ Nah itu dia, tapi kalau diliha dari perkembangan anak sekarang coba kita lihat, mereka sudah tahulah soal pacaran dan lain – lain. Kalaupun mau diganti bahasanya apa juga yg bisa kedengarannya enak dan nyambung,kayaknya susah juga tuh. Kalaupun ada kritikan langsung dari orangtua ke redaksi kami, untuk saat ini malah belum ada. Karena orientasinya adalah si pembaca tersebut yaitu anak – anak, guananya untuk mendekatkan diri kepada anak, bukan pendekatan antara orangtua dan anak ataupun guru dan murid,namun pendekatannya lebih mengarah pada teman secara informal.

  1. Q: Topik untuk majalah XY kids dapat dari mana?

A: Biasanya ide – idenya dibuat dulu baru nanti dari semuanya akan disetujui melalui rapat redaksi.

  1. Q: Bisa dijelaskan lebih detail proses awal sampai akhir majalah XY Kids ini dimuat?

A: Diawali dari brainstroming yaitu apa saja yang akan dimuat dlam setiap edisi lalu akan disortir dalam rapat redaksi. Setalah topik itu disetujui maka wartawan akan mengumpulkan data atau mereserch dengan cara browing melalui internet, terjun kelapangan dan juga berkonsultasi langsung dengan narasumber / orang- orang yang sudah berkompeten dibidangnya.

  1. Q: Standart kelayakan untuk penulisan yang akan dimuat bahasanya?

A: Untuk penulisan mereka memilih untuk menggunakan bahasa yang tutur / sehari –hari / bahasa gaul bahasanyapun tidak berat lebih mengikuti perkembangan trend yang sedang in. Disamping itu bahasannya memberikan pengetahuan yang lebih karena majalah ini mereview alasan anak – anak untuk membeli suatu produk atau mainan ataupun tontonan agar mereka menjadi smart konsuming.

  1. Q: Visi dari majalah XY Kids dan misi kedepannya?
  • majalah hiburan untuk anak – anak ditengah kegiatan sekolah yang padat serta menjadi teman bagi mereka yang mendidik tanpa harus menggurui.
  • Akan meluncurkan majalah XY Kids untuk anak yang usianya dibawahnya
  1. Q: Disalah satu edisi XY Kids ada topik yg mengulas tentang Fast and

Farious bukankah itu film untuk orang dewasa?

A: Anak – anak jaman sekarang ini sangat well inform jadi ada ataupun tidak adanya ulasan tentang Fast and Farious di edisi majalah ini anak – anak akan tetap tahu dan tetap menonton. Jadi kita memikirkan lebih baik kita mengulas ini dari segi lain dimana kita membahas soal adengan – adegan dimana mobilnya sangat keren, sehinnga anak – anak kalau nanti menonton film akan lebih menfokuskan pada hal tersebut bukan sesuatu yang berbau dewasa.

Membiarkan Anak Menonton Film Jagoan

Ditulis oleh Administrator

Sunday, 30 November 2008

oleh Nina Mutmainnah Armando “Anak-anak Kok Menonton The Dark Knight”. Begitu judul surat

pembaca yang muncul di Koran Tempo awal Agustus lalu. Penulisnya, Endah Triastuti, menyatakan keprihatinannya

karena saat menonton The Dark Knight, bioskop dipenuhi oleh serombongan anak usia SD yang ikut menonton tanpa

didampingi oleh orang dewasa yang cukup. Sekitar 30-an anak itu menonton dengan hanya ditemani oleh sekitar 3

orang dewasa saja.

The Dark Knight adalah film bioskop terbaru Batman, sang superhero terkenal sejagat. Film ini sangat dipuji karena

tekniknya yang canggih dan akting para pemainnya. Tetapi harus diingat, film ini memang bukan film anak-anak. Endah

di suratnya menyebut film ini sebagai film dewasa karena banyak bermuatan tayangan yang sadistis. Misalnya,

pembunuhan dengan menggunakan senjata (pistol, bazooka, pisau), penyiksaan (orang diikat dengan ditutup mata dan

mulutnya, orang didorong keluar jendela dari gedung tinggi, orang ditabrak dengan kendaraan secara sengaja), kekejian

(orang yang sudah meninggal digantung, ancaman dengan pisau, penusukan dahi orang dengan bolpoin), dan adegan

dewasa (orang dewasa berciuman mesra). Kekerasan dalam film ini memang sangat kental. Saat saya menonton film

ini, beberapa kali saya harus memejamkan mata atau memalingkan wajah akibat kekengerian yang saya rasakan saat

menonton adegan tertentu. Jadi, saya amat setuju ketika Endah menulis, ”Membiarkan anak usia SD menonton

film tersebut tanpa pendampingan adalah bentuk ketidakpedulian terhadap kekejian dan kekerasan”. Ia

menyarankan, seharusnya, anak-anak menonton dengan didampingi, satu anak didampingi oleh satu orang dewasa,

sehingga anak-anak itu mendapat ”penjelasan yang layak tentang semua gambaran ’buatan’

itu”. *** Beberapa kali saya melihat memang anak-anak sering ”dilepas” menonton film bioskop.

Tampaknya, telah menjadi gaya hidup baru bagi anak-anak kota besar masa kini untuk hangout bersama teman-teman

sebaya mereka: pergi ke mal bersama-sama dan kemudian menonton film bioskop bareng-bareng. Anak-anak kecil itu

(usia kelas 4 hingga 6 SD) mengadopsi gaya kakak-kakak mereka yang remaja, pergi bersama-sama teman ke mal dan

bioskop tanpa pengawasan orangtua. Kalau toh ada yang mengantar rombongan anak-anak itu, paling hanya satu atau

dua orangtua atau pengasuh saja. Banyak orangtua yang hanya mengantar anak-anak itu ke mal dan kemudian nanti

menjemput lagi. Di satu sisi, tindakan semacam ini memang melatih kemandirian anak. Ditambah lagi, anak-anak

memang perlu bersosialisasi sebanyak-banyaknya dengan teman-temannya untuk mengasah kecerdasan sosialnya.

Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah orangtua mengontrol film yang ditonton anak? Dalam pengamatan saya,

anak-anak banyak pergi berombongan menonton jika film bioskop yang diputar adalah film populer yang sedang hangat

diperbincangkan. Misalnya saja Hulk, Spiderman, Batman, Superman, Harry Potter, Kungfu Panda, dan lain-lain.

Masalahnya, tak semua film populer di kalangan anak-anak itu adalah film yang aman. Bahkan, beberapa di antaranya

bahkan bukan film anak, tetapi film remaja atau dewasa. Namun, anak-anak ini (dan juga orangtua mereka!) banyak

yang mengira bahwa film-film tentang tokoh jagoan atau superhero adalah film anak, karena umumnya bercerita tentang

bagaimana sang tokoh jagoan tadi memberantas kejahatan – sebuah tema yang dianggap sangat bagus.

Padahal, banyak dari film tadi dibumbui kekerasan yang berlebihan dan juga umumnya dihiasi adegan dewasa

(umumnya adegan ciuman). Anak-anak banyak yang mengira bahwa itu adalah tontonan untuk mereka, karena di

banyak media anak film-film itu juga dipromosikan gencar. Belum lagi, berbarengan dengan penayangan filmnya, anakanak

juga ”diserbu” oleh berbagai merchandise di pasaran yang terkait dengan film tersebut (ada boneka,

topi, poster, pin, tempat pensil, kartu, dan sebagainya). Saat film Batman The Dark Knight kini hangat diperbincangkan,s

misalnya, banyak majalah anak mengulasnya dan memposisikannya seolah-olah film tersebut adalah benar film anak.

Sebagai contoh, majalah anak XYKids pada bulan Juli menampilkan edisi Batman. Di sampulnya tertulis kata-kata

”Edisi Khusus Batman: Komplet tentang Batman, musuhnya, senjatanya, vehiches-nya, gebetannya, dsb”.

Artikel di dalamnya ditulis dengan gaya tulisan yang lebih pas untuk remaja, bukan untuk anak, padahal jelas-jelas ini

adalah majalah anak. Promosi gencar sebuah film sangat potensial mendorong anak untuk ikut menonton filmnya.

Apalagi, jika promosi gencar, banyak teman-teman yang menonton, maka anak pun ingin menonton karena bagian dari

trend pergaulan –kalau nggak ikut nonton maka ngga gaul gitu loh… *** Banyak orangtua yang tidak melakukan

kontrol lebih dahulu pada film yang akan ditonton anaknya. Mereka tidak mencari tahu sebelumnya, bagaimana

persisnya film tersebut. Sekarang ini tampaknya menjadi keharusan bagi orangtua untuk mencari informasi terlebih

dahulu tentang bagaimanakah film yang ditonton anak. Tidak lagi cukup bahwa film itu dipromosikan di sana-sini

(termasuk di majalah khusus anak), tetapi seharusnya orangtua mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang sebuah

film sebelum memberi izin boleh tidaknya anak menonton. Orangtua sepatutnya berpikir cukup dalam tentang

pemberian izin ini dengan mengaitkannya pada dua hal: usia anak dan tampilan film. Film dengan materi dewasa yang

kental (misalnya kekerasan yang cukup banyak ditampilkan) tentu saja sebaiknya tidak dibolehkan untuk ditonton anak

yang lebih kecil. Anak-anak kecil belum kritis menonton, belum dapat membedakan realita dan fiksi, dan seringkali

merasa ketakutan akibat materi-materi menakutkan dalam film. Tambahan lagi, setiap anak (bahkan hingga remaja

SMP) seharusnya didampingi saat menonton film-film yang banyak muatan dewasanya semacam The Dark

Knight.Pendampingan diperlukan agar anak mendapat penjelasan dari apa yang tampak di layar, karena banyak sekali

tampilan yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut bagi anak. Bagi anak yang lebih kecil, pendampingan diperlukan

untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat kekejian yang tampil di layar. *** Banyak sekali film yang

”menyerbu” anak kita (film bioskop maupun DVD). Banyak di antaranya sebenarnya bukan merupakan film

anak, tetapi anak-anak kita ingin menontonnya dengan beragam alasan. Selain diperlukan sikap kritis orangtua untuk

melihat setiap film sebelumnya, please, jangan ”melepas” anak Anda menonton film hanya bersama

http://www.ummi-online.com/

http://www.ummi-online.com/ Powered by: Joomla! Generated: 19 October, 2009, 13:44

teman-teman sebayanya. Anda-lah, orangtuanya, yang seharusnya ada di sisi anak saat ia menonton film tersebut. —–

————

http://www.ummi-online.com/

http://www.ummi-online.com/ Powered by: Joomla! Generated: 19 October, 2009, 13:44

Written by stanleykartawinata

April 7, 2010 at 4:21 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: